
Diskusi dosen belajar #seri13 menggarisbawahi suatu kegelisahan yang telah lama mengakar dalam dunia pendidikan: betapa sekolah-sekolah kerap tampak sangat sibuk, namun belum tentu memberikan kedalaman makna bagi peserta didik. Siswa datang pagi-pagi dan pulang saat hari sudah sore, dibebani setumpuk tugas dan rangkaian ujian yang tak putus-putusnya. Namun dalam berbagai diskusi itu, selalu muncul pertanyaan reflektif yang sederhana namun mendasar: setelah semua kesibukan itu berlalu, nilai atau pemahaman apa yang sesungguhnya tertinggal dan hidup dalam diri setiap anak?
Dari perdebatan dan tukar pikiran itulah, gagasan untuk mengintegrasikan Pendekatan Pembelajaran Mendalam dengan Kurikulum Cinta, melalui penyisipan nilai karakter, muncul bukan sekadar sebagai konsep teoretis, melainkan sebagai sebuah jawaban yang dianggap relevan dan bahkan mendesak untuk diimplementasikan. Namun, sekali lagi ini bukan integrasi adiministratif.
Dari Aktivitas yang Padat Menuju Pembelajaran yang Membekas
Dalam berbagai forum diskusi, Pembelajaran Mendalam sering digambarkan sebagai upaya menggeser orientasi dari sekadar "menyelesaikan materi" menjadi "menghayati proses belajar". Belajar tidak lagi dianggap tuntas ketika hafalan sudah dikuasai, tetapi justru dimulai dari pemahaman konseptual, dilanjutkan dengan penerapan dalam situasi nyata, dan diakhiri dengan refleksi kritis. Elemen kesadaran (mindful), kebermaknaan (meaningful), dan kegembiraan (joyful) menjadi penanda utama yang kerap kami perbincangkan sebagai tujuan bersama.
Implikasinya terhadap praktik di kelas pun menjadi bahan diskusi yang intens. Kelas tidak lagi dilihat sebagai ruang satu arah yang penat, melainkan sebagai ruang dialog yang dinamis. Peran guru pun direkonstruksi, dari sekadar penyampai kurikulum menjadi seorang fasilitator dan desainer pengalaman belajar. Peserta didik, dalam pandangan ini, ditempatkan sebagai subjek aktif yang berpikir, merasa, dan tumbuh secara holistik.
Kurikulum Cinta: Menanam Nilai, Bukan Menempel Slogan
Salah satu poin kritis yang sering mengemuka dalam diskusi adalah kecenderungan pendidikan karakter yang hanya bersifat tempelan, muncul di spanduk, tertulis rapi di RPP, atau menjadi slogan tanpa roh. Kurikulum Cinta justru mengajak untuk melihat karakter bukan sebagai tambahan, melainkan sebagai jiwa yang menyatu dalam pembelajaran. Nilai-nilai seperti cinta kepada Tuhan, sesama, bangsa, lingkungan, dan diri sendiri tidak diajarkan secara verbalistik, melainkan diinternalisasi melalui pengalaman belajar yang dirancang khusus.
Micro Teaching: Dari Modul Ajar ke Ruh Mengajar
Dalam diskusi muncul kegetiran. Administrasi yang rigid, rapi, dan prosedural, ketika ia dipraktikkan, maka praktik mengajar mahasiswa dalam micro teaching menjadi seperti robot. Mengajar yang robotik. Mereka mengajar dengan mengacu pada "prompt" modul, sehingga praktik mengajarnya sangat kaku, prosedural, tidak ada jiwa mengajarnya. Ia terpaku pada kapan ia membuka pembelajaran, dengan cara apa, melaksanakan pembelajaran, melakukan ice breaking, lalu menutup pembelajaran, dan evaluasi. Selesai. Satu isi ini wajar. Mahasiswa masih tahap belajar mengajar. Tapi, dalam diskusi muncul bahwa, micro teaching, dan bahkan dalam perkuliahan, mahasiswa harus dilatih mempunyai ruh mengajar. Ruh mengajar inilah yang akan menjadi bekal yang "abadi" calon pendidik.
DOSEN PAI MENJADI MITRA SEJAWAT DALAM PENYUSUNAN RENSTRA UIN SALATIGA
2 hari yang lalu - Umum