Loading...

Kesehatan Mental Remaja: Urusan Serius yang Sering Dianggap Sepele

Diterbitkan pada
11 Februari 2026 19:11 WIB

Baca



Jujur saja, kalau kita dengar kata kesehatan, yang langsung kepikiran biasanya tubuh: makan sehat, olahraga, atau minum vitamin. Padahal, ada satu aspek yang nggak kalah penting, bahkan sering lebih menentukan, yaitu kesehatan mental. Apalagi kalau kita bicara soal remaja.

Masa remaja itu bukan fase yang ringan. Ini masa transisi dari anak-anak ke dewasa, di mana perubahan fisik, emosi, cara berpikir, dan perilaku datang bersamaan. Remaja dituntut menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, tekanan akademik, tuntutan keluarga, dan sekarang ditambah lagi dengan dunia media sosial yang serba cepat dan penuh perbandingan. Kalau kesehatan mentalnya terganggu, dampaknya bisa ke mana-mana: emosi jadi sulit dikendalikan, hubungan sosial bermasalah, prestasi menurun, bahkan muncul perilaku berisiko

Faktanya, masalah kesehatan mental pada remaja itu bukan hal langka. Sekitar 20% remaja mengalami gangguan mental, yang paling umum adalah depresi dan kecemasan. Bahkan, sebagian besar gangguan mental emosional muncul pertama kali di usia remaja. Ini artinya, apa yang dialami remaja hari ini bisa sangat menentukan kualitas hidup mereka di masa depan

Yang bikin miris, banyak remaja yang sebenarnya sedang “teriak minta tolong”, tapi caranya tidak selalu terlihat jelas. Perasaan sedih berkepanjangan, merasa tidak sanggup lagi menghadapi beban hidup, merasa putus asa, hingga keinginan untuk “pergi” sering kali dianggap sebagai drama atau sekadar fase. Padahal, di balik itu bisa tersembunyi keinginan untuk mendapatkan perhatian, dipahami, atau dibantu. Ironisnya, keinginan meminta bantuan ini kadang justru diekspresikan lewat perilaku menyakiti diri sendiri

Di sinilah pentingnya memahami coping mechanism dan defence mechanism. Mekanisme koping adalah cara sadar yang digunakan seseorang untuk menghadapi stres, sementara mekanisme pertahanan lebih bersifat otomatis dan tidak disadari. Remaja yang punya coping sehat, seperti berpikir positif, mampu memecahkan masalah, menjaga kesehatan fisik, dan memiliki dukungan sosial, akan lebih kuat menghadapi tekanan hidup dibanding mereka yang memendam semuanya sendirian

Menurut saya, menjaga kesehatan mental remaja itu bukan cuma tanggung jawab remajanya sendiri. Orang tua, guru, sekolah, dan lingkungan sekitar punya peran besar. Mulai dari hal sederhana: mau mendengar tanpa menghakimi, memberi ruang untuk bercerita, dan tidak meremehkan perasaan mereka. Karena bagi remaja, didengarkan saja kadang sudah cukup untuk membuat hidup terasa lebih ringan.

Intinya, kesehatan mental remaja bukan isu sepele dan bukan pula isu “lebay”. Ini kebutuhan dasar, sama pentingnya dengan makan dan tidur. Kalau kita serius ingin mencetak generasi yang sehat dan tangguh, perhatian pada kesehatan mental remaja harus jadi prioritas, bukan pilihan terakhir.