
Jakarta, 27 Desember 2025 – M. Irfan Syaifuddin, M.H.I. dosen program studi PAI FIT UIN Raden Mas Said Surakarta, mendapatkan undangan peserta dalam acara Forum Diseminasi Nasional tentang Pendidikan Tinggi Inklusif Penyandang Disabilitas di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama British Council Indonesia. Acara yang akan diadakan di Auditorium Gedung D, Kemendikbudristek, Jakarta ini bertujuan untuk mendiseminasikan temuan, praktik baik, dan pembelajaran dari kemitraan Inggris-Indonesia dalam mendorong inklusi disabilitas di perguruan tinggi.
Indonesia telah memiliki komitmen regulasi yang kuat untuk inklusi disabilitas, antara lain Undang-Undang No. 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Permendikbud No. 46/2017 tentang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi. Namun, akses dan partisipasi penyandang disabilitas dalam pendidikan tinggi masih terbatas, dengan kesiapan institusi yang beragam di lebih dari 4.000 perguruan tinggi di tanah air.
Melalui forum ini, diharapkan terjadi percepatan adopsi kebijakan dan layanan inklusif di tingkat institusi. "Forum ini menjadi platform penting untuk berbagi bukti dan praktik yang terbukti efektif, serta mendorong dialog kebijakan yang lebih luas untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang benar-benar inklusif," ujar perwakilan panitia.
Acara ini dihadiri oleh 150 peserta, terdiri dari pejabat Direktorat Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama Kemendikbudristek, pimpinan perguruan tinggi Indonesia (seperti Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan), perwakilan Unit Layanan Disabilitas (ULD), serta penerima hibah dan mitra proyek Going Global Partnerships (GGP) Disability Inclusion Grants British Council.
Rangkaian acara dilaksanakan untuk mendalami berbagai aspek kritis:
Pembicara kunci melibatkan Prof. Stella Christie (Wakil Menteri Kemendikbudristek – dalam konfirmasi) dan Mr. Summer Xia (Country Director British Council Indonesia). Forum ini juga menampilkan presentasi dari berbagai mitra universitas Indonesia dan Inggris yang telah menjalankan proyek perintis, seperti Universitas Telkom dengan Lancaster University, Universitas Al Azhar Indonesia dengan University of Edinburgh, serta Universitas Indonesia dengan University of Worcester.
Melalui forum ini perguruan tinggi di Indonesia meningkatkan kesadaran dan pemahaman institusi mengenai kewajiban inklusi, tetapi juga memicu aksi nyata dan kolaborasi nasional yang lebih kuat untuk membuka akses pendidikan tinggi yang setara bagi seluruh anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas.


DOSEN PAI MENJADI MITRA SEJAWAT DALAM PENYUSUNAN RENSTRA UIN SALATIGA
2 hari yang lalu - Umum