Loading...

Benarkah Lulusan UIN Tidak Punya Skill

Diterbitkan pada
1 April 2026 13:15 WIB

Baca


Dr. Hakiman, M.Pd.I

Dosen Program Studi PAI UIN Raden Mas Said Surakarta

Membaca berbagai tulisan dan berbagai komentar netizen bahwa lulusan UIN tidak punya skill atau skillnya dibawah rata-rata, sangat mengusik kita sebagai pengajar di UIN.  
Komentar netizen tentang lulusan UIN umumnya mengarah pada satu benang merah yaitu adanya kesenjangan antara kekuatan pengetahuan dan kesiapan praktik di dunia nyata.
Lulusan UIN dinilai kuat secara teori, terutama dalam bidang keislaman, tetapi kurang terampil dalam mengaplikasikannya dalam konteks kerja modern, seperti komunikasi profesional, pemanfaatan teknologi, dan pemecahan masalah. Ada juga yang berkomentar kurikulum UIN nanggung agama tidak dalam skill tidak tajam.
Kritik juga mengarah pada kurang kompetitif dan adaptifnya lulusan UIN baik dalam persaingan dunia kerja umum maupun dalam menghadapi perkembangan zaman. Kritik juga menyasar pada aspek soft skills, seperti kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi, serta kualitas karya akademik yang dinilai belum optimal.
Dari sini, penting untuk melihat bahwa komentar netizen bukan kebenaran mutlak, tetapi cermin persepsi publik. Ia bisa mengandung kritik yang perlu dijawab, tetapi juga bias yang perlu diluruskan atau mau dianggap angin lalu.
 
Tantangannya bukan sekadar membantah kritikan, tetapi membuktikan melalui perubahan nyata dalam proses pendidikan dan kualitas lulusan itu merupakan hal yang penting.
Tidak semua kegelisahan harus ditolak kadang justru perlu dihadapi dengan jujur. Tudingan bahwa “lulusan UIN tidak punya skill” memang menyakitkan, tetapi bisa jadi itu adalah cermin. Bukan karena UIN tidak memiliki potensi, melainkan karena ada jurang yang belum dijembatani, antara ilmu yang dipelajari dan keterampilan yang dijalankan. Kita terlalu lama merasa cukup dengan teori dan nilai akademik, sementara dunia nyata menuntut kemampuan berpikir, bertindak, dan beradaptasi. Ilmu berhenti hanya dalam teks dan di meja perkuliahan, Ilmu bukan menjadi alat untuk membaca dan menyelesaikan realitas.
Penulis melihat ada sesuatu yang perlahan hilang dari ruh keilmuan kampus kita. Kuliah berjalan, tetapi terasa mekanis. Diskusi sepi, perpustakaan sunyi, relasi dosen dan mahasiswa kehilangan makna. Mengajar menjadi rutinitas, belajar menjadi kewajiban, bukan proses pencarian kebenaran. Kita seolah mendidik, padahal hanya memproduksi lulusan yang lulus dengan gelar, tetapi gamang saat melangkah di kehidupan nyata. Dan ironisnya, ketika mereka tidak siap, yang disalahkan adalah mahasiswa, bukan sistem yang membentuk mereka.
 
Kegelisahan itu tidak berdiri sendiri, ia saling terhubung dalam satu lingkaran yang jarang kita akui. Kita menuntut lulusan yang siap, adaptif, dan terampil, tetapi lupa melihat siapa yang menyiapkan mereka. Bagaimana mungkin dosen diminta hadir sepenuhnya mendampingi mahasiswa, jika dirinya sendiri masih bergulat dengan regulasi yg selalu berubah. 
Dosen terjebak dalam ruang gerak yang kaku, kreativitas yang terbatasi oleh administrasi. Masih ada Dosen yang berjalan tanpa kepastian pengembangan karir yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, mengajar mudah berubah menjadi rutinitas, membimbing menjadi formalitas, dan relasi akademik kehilangan maknanya. Pendidikan berjalan, tetapi kurang bermakna
Persoalan yang kita hadapi hari ini, penulis mengajak mari kita lihat dengan penuh kesadaran, karena bukan semata-mata lemahnya skill mahasiswa, tetapi rapuhnya ekosistem pendidikan itu sendiri. Kita terlalu cepat menilai hasil, tanpa membenahi akar. Padahal, pendidikan tidak akan pernah kuat jika pendidiknya sendiri belum dikuatkan. Sulit mengharapkan lahirnya mahasiswa yang hidup pikirannya, jika dosennya sendiri tidak diberi ruang untuk tumbuh. Sulit membangun ikatan batin dalam pembelajaran, jika sistem hanya menuntut penyelesaian administrasi. Maka yang perlu dibenahi bukan hanya kurikulum atau metode, tetapi keberanian untuk memanusiakan dosen memberi arah, kepastian, dan penghargaan yang layak.
Ketika hal itu terwujud, barulah harapan menjadi masuk akal. Dosen tidak lagi sekadar mengajar, tetapi membimbing dan melatih dengan hati. Mahasiswa tidak lagi sekadar belajar, tetapi bertumbuh. Ilmu tidak lagi berhenti di teks, tetapi hidup dalam tindakan. Dan lulusan UIN tidak lagi dipertanyakan kesiapan dirinya, karena ia lahir dari proses pendidikan yang utuh yang tidak hanya mencetak gelar, tetapi membentuk manusia yang mampu berpikir, bekerja, dan memberi makna dalam kehidupan.
 
Tidak Ada Tapi Nyata
Ada satu hal yang sering luput dari cara kita menilai keberhasilan, kita terlalu sibuk melihat siapa yang “terserap industri”, tetapi lupa melihat siapa yang menopang kehidupan masyarakat. Lulusan UIN mungkin tidak selalu hadir di gedung-gedung megah atau perusahaan besar, tetapi mereka hidup di jantung masyarakat menjadi takmir masjid, marbot, mudin, guru ngaji, penceramah, dan pengajar TPA. Mereka menghidupkan ruang-ruang sunyi yang tidak terlihat statistik, tetapi justru menjadi penyangga nilai, moral, dan spiritual umat. Mereka bekerja bukan karena imbalan besar, tetapi karena kesadaran bahwa hidup harus memberi manfaat.
Ketika banyak orang mengejar pengakuan dunia, mereka memilih hadir dalam kesederhanaan mendidik anak-anak membaca Al-Qur’an, membimbing masyarakat dalam ibadah, menjaga harmoni sosial. Mungkin gaji mereka “seikhlasnya”, tetapi dampaknya tidak bisa diukur dengan angka. Mereka bukan sekadar lulusan, tetapi penjaga denyut kehidupan masyarakat.
Maka jangan buru-buru mengatakan mereka tidak siap pakai justru mereka adalah orang-orang yang siap mengabdi, bahkan ketika dunia tidak banyak memberi.  Tulisan ini bukan pembelaan tetapi mencoba untuk melihat dari persfektif yang beda.