Loading...

Tiga Mahasiswa PAI yang Tengah Menyusun Tugas Akhir Ikuti Book Talk The Art of Scientific Inquiry

Diterbitkan pada
12 Oktober 2026 16:12 WIB

Baca

SURAKARTA, Senin (12 Oktober 2026) — Tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang tengah menjalani penelitian tugas akhir mengikuti kegiatan Book Talk bertajuk The Art of Scientific Inquiry di Aula Pascasarjana, Senin (12/10). Keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi penelitian, mempertajam kemampuan analisis, dan membangun argumentasi ilmiah yang kuat.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Zidni Nur Fatimah, Maeva Fatia Salma, dan Cantika Rizkyana. Bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan penelitian tugas akhir, forum akademik ini relevan karena menghadirkan pembahasan mengenai tantangan mendasar dalam penelitian: bagaimana mengembangkan gagasan, menggunakan teori secara tepat, dan menghasilkan analisis yang melampaui sekadar rangkuman literatur.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D., Prof. Dr. Islah Gusmian, M.Ag., dan Prof. Dr. Fitri Wulandari, S.E., M.Si. Diskusi dipandu oleh Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.

Salah satu pesan penting dalam diskusi tersebut adalah perlunya mahasiswa memanfaatkan kesempatan presentasi di kelas sebagai ruang untuk menguji gagasan. Presentasi bukan sekadar pemenuhan kewajiban perkuliahan, melainkan kesempatan untuk mengasah argumentasi, menerima kritik, dan menemukan kelemahan dalam rancangan pemikiran maupun penelitian.

Pembahasan juga menyoroti penggunaan teori dalam menjelaskan aspek metodologis, termasuk populasi dan sampel. Peneliti tidak cukup mengutip definisi dari buku metodologi, tetapi harus menjelaskan relevansi konsep tersebut dengan objek, konteks, dan tujuan penelitiannya. Teori semestinya menjadi pisau analisis, sedangkan tinjauan pustaka berfungsi sebagai peta jalan untuk memahami perkembangan kajian dan menentukan posisi penelitian.

Bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir, pendekatan tersebut penting untuk memastikan bahwa penelitian memiliki dasar akademik yang kokoh. Literatur yang kuat perlu diolah melalui proses analisis dan sintesis, bukan sekadar dikumpulkan atau disajikan sebagai deretan pendapat para ahli.

Persoalan penggunaan kecerdasan buatan generatif, seperti ChatGPT dan Claude, turut menjadi perhatian. Teknologi dapat membantu proses penelitian, tetapi tidak seharusnya menggantikan pemikiran mandiri, pertimbangan kritis, dan pengalaman empiris peneliti. Tanggung jawab untuk memeriksa sumber, menguji informasi, dan memastikan ketepatan argumentasi tetap berada pada penulis.

Pesan tersebut menegaskan bahwa tugas utama seorang peneliti adalah menganalisis. Peneliti perlu menghubungkan berbagai temuan, membandingkan perspektif, mengidentifikasi pola, dan menyusun sintesis yang dapat memperkaya pemahaman terhadap persoalan yang dikaji.

Bagi mahasiswa PAI, keterampilan ini memiliki arti penting dalam penelitian pendidikan Islam. Persoalan pendidikan tidak cukup dijelaskan melalui teori atau konsep normatif semata, tetapi perlu dianalisis dengan mempertimbangkan konteks penelitian, bukti empiris, dan kerangka keilmuan yang relevan.

Keikutsertaan Zidni Nur Fatimah, Maeva Fatia Salma, dan Cantika Rizkyana dalam Book Talk The Art of Scientific Inquiry menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif mereka ketika menjalani proses penelitian tugas akhir. Pengalaman tersebut juga mengingatkan bahwa kualitas karya ilmiah tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan referensi, tetapi oleh ketajaman pertanyaan, ketepatan metodologi, dan kedalaman analisis.

Pada akhirnya, penelitian yang baik lahir dari pertemuan antara penguasaan literatur, ketelitian metodologis, dan keberanian berpikir kritis. Bagi mahasiswa yang sedang menuntaskan tugas akhir, ketiganya menjadi bekal penting untuk menghasilkan karya ilmiah yang tidak sekadar memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga memiliki nilai intelektual yang dapat dipertanggungjawabkan.