Loading...

Tampil sebagai Presenter pada ICCL 2026, Azzahra Angkat Relasi Manusia dan Lingkungan dalam Sastra Kalimantan

Diterbitkan pada
3 September 2026 17:16 WIB

Baca

Boyolali, 3 September 2026 — Prestasi akademik kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, UIN Raden Mas Said Surakarta. Azzahra Sindhi Latifa tampil sebagai presenter dalam The 4th International Conference on Cultures and Languages (ICCL) 2026, konferensi internasional yang diselenggarakan UIN Raden Mas Said Surakarta pada 2–3 September 2026.

Dalam konferensi tersebut, Azzahra mempresentasikan paper berjudul “Relasi Manusia–Lingkungan dan Kerentanan dalam Cerpen Kayu Naga Karya Korrie Layun Rampan: Sosial Masyarakat Pedalaman Kalimantan.” Judul dan identitas presenter tersebut tercantum dalam materi presentasi ICCL 2026 yang dibawakannya.

ICCL 2026 mengusung tema besar “Decolonizing Knowledge: Reimagining Language, Literature, History, and Creativity for Sustainable Development Goals (SDGs)”. Konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk mendiskusikan berbagai isu mengenai bahasa, budaya, sastra, sejarah, serta produksi pengetahuan dalam perspektif yang lebih inklusif dan kontekstual.

Azzahra mengangkat isu ekologis dan sosial melalui pendekatan sastra. Penelitiannya berangkat dari persoalan deforestasi dan tekanan ekologis di Kalimantan yang berdampak terhadap ruang hidup masyarakat yang bergantung pada lingkungan. Dalam kajiannya, cerpen Kayu Naga karya Korrie Layun Rampan digunakan sebagai objek untuk membaca hubungan masyarakat pedalaman Kalimantan dengan hutan, tumbuhan, satwa, dan sumber daya alam.

Menghubungkan Pengetahuan Ekologis dan Kerentanan Sosial

Penelitian Azzahra tidak hanya melihat hubungan manusia dengan alam, tetapi juga menghubungkannya dengan ecological knowledge, social vulnerability, dan human well-being. Kerangka tersebut dipadukan dengan perspektif ekokritik Greg Garrard sebagai pendekatan utama dalam membaca relasi manusia dan lingkungan dalam karya sastra.

Dalam presentasinya, Azzahra menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman memiliki pengetahuan ekologis yang terbentuk melalui pengalaman langsung dan praktik kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut mencakup kemampuan mengenali habitat tumbuhan, memahami karakteristik dan pemanfaatan sumber daya, memahami fauna, serta melihat hubungan antara tumbuhan dan satwa.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ekologis dapat menjadi kapasitas adaptif sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Namun, relasi tersebut juga memiliki sisi eksploitatif, khususnya dalam pemanfaatan fauna. Dengan demikian, hubungan manusia dan lingkungan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hubungan yang sepenuhnya harmonis.

Di sisi lain, penelitian tersebut menemukan bahwa kerentanan masyarakat pedalaman tidak semata-mata disebabkan oleh risiko ekologis. Kemiskinan, keterbatasan infrastruktur dan mobilitas, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar turut memperbesar kapasitas risiko yang dihadapi masyarakat.

Dalam cerpen Kayu Naga, kondisi tersebut antara lain tergambar melalui keterbatasan ekonomi dan hunian, tidak tersedianya akses jalan darat menuju kota, serta jarak dan waktu tempuh yang panjang untuk memperoleh layanan kesehatan.

Membawa Perspektif Dekolonial

Salah satu aspek penting dalam penelitian ini adalah upaya menempatkan masyarakat pedalaman bukan semata-mata sebagai kelompok rentan, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengetahuan ekologis.

Perspektif tersebut sejalan dengan semangat dekolonisasi pengetahuan yang menjadi tema ICCL 2026. Azzahra menegaskan dalam kerangka penelitiannya bahwa pengetahuan lokal perlu diakui sebagai sumber pengetahuan yang kontekstual. Namun, pengakuan tersebut tetap perlu disertai perhatian terhadap struktur sosial, ekonomi, dan geografis yang turut membentuk kerentanan masyarakat.

Penelitian ini juga memperlihatkan bagaimana risiko ekologis dapat berkelindan dengan keterbatasan sosial. Interaksi dengan satwa liar, misalnya, dapat berkembang menjadi risiko kesehatan ketika masyarakat mengalami serangan ular, sementara keterbatasan evakuasi dan akses layanan kesehatan memperbesar ancaman terhadap keselamatan dan kesejahteraan.

Pada bagian kesimpulan, penelitian Azzahra menegaskan bahwa pengetahuan ekologis yang dimiliki masyarakat tidak serta-merta menghilangkan kerentanan sosial. Sebaliknya, kemiskinan, keterisolasian, keterbatasan infrastruktur, kesulitan evakuasi, dan akses kesehatan dapat memperbesar dampak risiko ekologis terhadap human well-being.

Keikutsertaan Azzahra sebagai presenter dalam konferensi internasional tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya akademik mahasiswa PAI Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta. Tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mempresentasikan hasil penelitian, forum internasional seperti ICCL juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mempertemukan perspektif keislaman dan pendidikan dengan isu-isu kebudayaan, lingkungan, sastra, serta perkembangan wacana akademik global.

Dengan tampilnya mahasiswa PAI sebagai presenter dalam ICCL 2026, kontribusi mahasiswa Fakultas Tarbiyah tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga hadir dalam forum akademik internasional melalui penelitian yang mengangkat pengetahuan lokal, masyarakat, lingkungan, dan persoalan kemanusiaan.