
SURAKARTA, 8 Oktober 2026 — Perbincangan tentang masa depan Islam Jawa tidak lagi berlangsung hanya di ruang-ruang kajian sejarah dan keagamaan. Di tengah perubahan teknologi yang menggeser cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama, pertanyaan tentang siapa yang memiliki otoritas keagamaan, bagaimana identitas budaya dipertahankan, dan bagaimana Islam Jawa bernegosiasi dengan media baru menjadi semakin relevan.
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian dari diskusi dalam The 4th International Conference on Islam and Society (ICIS) 2026, yang digelar pada 7 Oktober 2026 di Gedung SBSN, dengan mengusung tema “Re-theorizing Islam Jawa in Contemporary Indonesia.”
Konferensi yang berlangsung pukul 08.00–17.15 WIB tersebut mempertemukan sejumlah akademisi dari dalam dan luar negeri untuk membahas Islam dan masyarakat Indonesia kontemporer.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ayman Hammam Abdurrohman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), tampil sebagai presenter bersama Rojif Mualim, M.Pd. sebagai penulis pertama. Keduanya mempresentasikan penelitian berjudul:
“Re-Theorizing Javanese Islam in the Digital Age: Negotiating Religious Authority, Cultural Identity, and New Media.”
Judul tersebut membawa diskusi tentang Islam Jawa ke ruang yang semakin menentukan kehidupan masyarakat kontemporer: dunia digital. Perkembangan media baru tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga membuka ruang baru bagi produksi, penyebaran, dan perundingan otoritas keagamaan serta identitas budaya.
Bagi Ayman, kesempatan mempresentasikan penelitian dalam konferensi internasional memberikan pengalaman akademik yang berbeda dari kegiatan perkuliahan sehari-hari.
Ia mengatakan keikutsertaannya dalam ICIS 2026 menjadi pengalaman baru dan berharga, terutama sebagai mahasiswa PAI yang memperoleh kesempatan untuk melihat secara lebih luas bagaimana Islam Jawa ditempatkan dalam konteks Indonesia kontemporer.
“Mengikuti Konferensi ICIS 2026 ini memberikan pengalaman baru dalam akademik saya, dan sangat berharga terkhusus bagi saya yang berstatus sebagai mahasiswa PAI,” kata Ayman.
Menurutnya, konferensi tersebut memberikan wawasan tambahan mengenai Islam di Jawa, khususnya ketika ditempatkan dalam dinamika masyarakat Indonesia masa kini. Pengalaman tersebut tidak berhenti pada mendengarkan paparan para akademisi, tetapi juga berkembang melalui proses diskusi ketika ia mempresentasikan penelitiannya.
Kesempatan berdiskusi dengan para akademisi menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan.
“Saya juga mendapatkan pengalaman untuk berdiskusi saat mempresentasikan dengan para akademisi dan pastinya mendapatkan insight baru,” ujarnya.
ICIS 2026 menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai institusi akademik. Acara diawali dengan welcoming speech oleh Dr. H. Kholilurrohman, M.Si., kemudian dilanjutkan dengan paparan Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag. sebagai keynote speaker.
Forum tersebut juga menghadirkan Dr. Amanah Nurish dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Matin bin Salman, Lc., M.Ag. dari UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. Sarah Muwahidah dari Universitas Edinburgh, Prof. Dr. H. Agus Wahyu Triatmo, M.Ag. dari UIN Raden Mas Said Surakarta, serta Prof. Mark Woodward dari Arizona State University.
Komposisi pembicara tersebut memperlihatkan ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik dari Indonesia dan perguruan tinggi internasional.
Di tengah forum itu, presentasi mahasiswa PAI menjadi salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa dalam percakapan akademik yang lebih luas. Penelitian tentang Islam Jawa di era digital sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga dapat hadir sebagai produsen dan penyaji gagasan ilmiah.
Bagi Ayman, tampil dalam forum akademik internasional juga menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, tantangan tersebut justru menjadi dorongan untuk meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan karya ilmiah dan menyampaikannya di hadapan publik akademik.
Ia memandang pengalaman di ICIS 2026 sebagai momentum untuk terus mengembangkan kapasitas diri.
“Pengalaman ini menjadi pengalaman yang menantang diri saya sekaligus memotivasi saya untuk terus meningkatkan kemampuan dalam berkarya dan presentasi ilmiah,” katanya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konferensi ilmiah dapat menjadi lebih dari sekadar forum penyampaian hasil penelitian. Bagi mahasiswa, konferensi juga menjadi ruang untuk menguji gagasan, menerima perspektif baru, membangun keberanian akademik, dan belajar berhadapan langsung dengan komunitas ilmiah.
Di tengah perubahan lanskap digital, pembahasan tentang otoritas keagamaan, identitas budaya, dan media baru kemungkinan akan semakin penting. Bagi mahasiswa PAI seperti Ayman, keterlibatan dalam diskusi itu menjadi langkah awal untuk memahami bahwa kajian Islam tidak berhenti pada teks dan ruang kelas, tetapi terus berhadapan dengan perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat.
ICIS 2026, dengan tema “Re-theorizing Islam Jawa in Contemporary Indonesia”, pada akhirnya menjadi ruang untuk melihat kembali Islam Jawa bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai fenomena yang terus bergerak, bernegosiasi, dan mencari bentuknya di tengah Indonesia yang semakin digital.