
SURAKARTA, 14 Oktober 2026 — Internasionalisasi perguruan tinggi tidak cukup diwujudkan melalui kerja sama dengan institusi luar negeri atau penggunaan bahasa asing dalam kegiatan akademik. Upaya tersebut menuntut perubahan yang lebih mendasar: bagaimana program studi merancang kurikulum, membangun lingkungan akademik, dan mempersiapkan lulusan agar mampu berkiprah dalam konteks global tanpa kehilangan relevansi lokal.
Persoalan itu menjadi fokus Faculty Forum: Internasionalisasi Program Studi yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026. Forum menghadirkan Prof. Dr. Isolde Kurz, pakar dari Jerman yang sehari sebelumnya terlibat dalam review kurikulum program studi di lingkungan fakultas.
Kegiatan ini dihadiri Dekan Fakultas Tarbiyah, Prof. Fauzi Muharom; Wakil Dekan I, Dr. Khasan Ubaidillah; Wakil Dekan II, Prof. Siti Choiriyah; dan Wakil Dekan III, Dr. Rustam Ibrahim. Forum juga melibatkan seluruh ketua dan sekretaris program studi, tenaga kependidikan, perwakilan dosen, serta mahasiswa.
Komposisi peserta tersebut memperluas pembahasan internasionalisasi dari ranah kebijakan pimpinan dan pengelolaan akademik menuju keterlibatan unsur-unsur yang menjalankan dan mengalami proses pendidikan secara langsung.
Dalam pengembangan pendidikan tinggi, internasionalisasi kerap dikaitkan dengan mobilitas mahasiswa, kolaborasi riset lintas negara, pertukaran dosen, dan kemitraan institusional. Namun, dimensi tersebut hanya sebagian dari agenda yang lebih luas.
Internasionalisasi program studi juga berkaitan dengan kemampuan kurikulum merespons perkembangan ilmu pengetahuan global, keterbukaan terhadap perspektif lintas budaya, penguatan kompetensi bahasa, serta perluasan kesempatan mahasiswa untuk terlibat dalam jejaring akademik internasional.
Bagi Fakultas Tarbiyah, agenda ini memiliki tantangan tersendiri. Program studi di bidang pendidikan perlu membangun kompetensi global sekaligus mempertahankan kepekaan terhadap konteks sosial, budaya, dan kebutuhan pendidikan Indonesia. Keduanya bukan pilihan yang saling bertentangan, melainkan dimensi yang perlu dipadukan dalam desain pendidikan.
Kurikulum yang berorientasi internasional, misalnya, perlu didukung oleh capaian pembelajaran yang jelas, sumber belajar yang memadai, metode pembelajaran yang relevan, dan sistem asesmen yang mampu mengukur kompetensi mahasiswa. Tanpa dukungan tersebut, internasionalisasi berisiko berhenti sebagai label kelembagaan, bukan perubahan substantif dalam pengalaman belajar.
Pelibatan pimpinan fakultas, pengelola program studi, tenaga kependidikan, dosen, dan mahasiswa memberikan ruang untuk melihat internasionalisasi dari beragam sudut pandang.
Pimpinan fakultas berperan dalam menetapkan arah kebijakan dan prioritas pengembangan. Program studi menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam kurikulum dan kegiatan akademik. Dosen menjalankannya melalui pembelajaran dan penelitian, sedangkan tenaga kependidikan mendukung layanan serta administrasi yang memungkinkan kegiatan akademik berlangsung secara efektif. Mahasiswa, pada akhirnya, menjadi pihak yang merasakan langsung dampak kebijakan tersebut.
Keterlibatan berbagai unsur ini penting karena internasionalisasi tidak dapat bergantung pada satu unit atau sejumlah individu. Pelaksanaannya membutuhkan koordinasi, dukungan sumber daya, sistem layanan yang responsif, dan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Di sisi lain, agenda internasionalisasi juga perlu disertai penetapan prioritas yang realistis. Pengembangan kemitraan luar negeri, peningkatan publikasi internasional, mobilitas akademik, dan penguatan kapasitas bahasa memerlukan perencanaan serta evaluasi yang berkelanjutan. Setiap program perlu memiliki sasaran dan indikator keberhasilan agar kemajuan dapat dinilai berdasarkan hasil, bukan hanya jumlah kegiatan.

Kehadiran Prof. Dr. Isolde Kurz dalam forum ini melanjutkan rangkaian penguatan mutu akademik Fakultas Tarbiyah setelah agenda review kurikulum pada 13 Oktober 2026. Jika peninjauan kurikulum berfokus pada evaluasi rancangan akademik, forum internasionalisasi memperluas perhatian pada arah pengembangan program studi dalam lingkungan pendidikan tinggi yang semakin terhubung secara global.
Kedua agenda tersebut memiliki hubungan strategis. Kurikulum yang relevan merupakan salah satu fondasi internasionalisasi, sementara orientasi internasional dapat menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi kompetensi lulusan, memperluas perspektif pembelajaran, dan mengembangkan kerja sama akademik.
Meski demikian, efektivitas forum tidak hanya ditentukan oleh kualitas diskusi. Hal yang lebih menentukan adalah kemampuan fakultas merumuskan tindak lanjut: memilih program prioritas, menetapkan target, mengidentifikasi kebutuhan sumber daya, dan mengintegrasikan hasil pembahasan ke dalam sistem penjaminan mutu.
Bagi Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta, internasionalisasi pada akhirnya merupakan proses membangun kapasitas akademik secara sistematis. Tujuannya bukan semata-mata menjadikan program studi terlihat lebih internasional, melainkan memastikan bahwa pendidikan yang diselenggarakan memiliki mutu yang kuat, terbuka terhadap perkembangan global, dan tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat.
Keberhasilan agenda tersebut akan terlihat ketika perspektif global hadir dalam keputusan akademik sehari-hari—dari kurikulum dan pembelajaran hingga penelitian, layanan mahasiswa, serta pengembangan kompetensi lulusan.