
Boyolali, 3 September 2026 — Kiprah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, UIN Raden Mas Said Surakarta, kembali terlihat dalam forum akademik internasional. Shalahudin Al Fatah tampil sebagai presenter dalam The 4th International Conference on Cultures and Languages (ICCL) 2026 yang diselenggarakan UIN Raden Mas Said Surakarta pada 2–3 September 2026.
Dalam konferensi tersebut, Shalahudin mempresentasikan paper berjudul “Tradisi Simtudduror Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi: Transmisi Warisan Sufistik dan Memori Keagamaan di Surakarta.” Identitas presenter, afiliasi UIN Raden Mas Said Surakarta, serta judul penelitian tersebut tercantum dalam materi presentasinya.
ICCL 2026 mengangkat tema “Decolonizing Knowledge: Reimagining Language, Literature, History, and Creativity for Sustainable Development Goals (SDGs)”. Konferensi internasional tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta dan menjadi ruang pertemuan akademisi serta peneliti untuk mendiskusikan berbagai persoalan kebudayaan, bahasa, sastra, sejarah, dan produksi pengetahuan.
Penelitian Shalahudin berangkat dari keberadaan Simtudduror, teks yang memuat pujian, shalawat, dan narasi kenabian yang kaya dengan nilai sufistik, khususnya nilai mahabbah atau kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kajian tersebut secara khusus melihat praktik pembacaan Simtudduror secara kolektif di Masjid Riyadh Solo. Pembacaan dilakukan melalui partisipasi jamaah dan rangkaian bacaan yang dipimpin oleh pembaca tertentu. Menurut penelitian tersebut, pengulangan dalam praktik ritual menjadi mekanisme penting dalam mentransmisikan nilai, narasi, simbol, dan figur Nabi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penelitian ini kemudian mengajukan pertanyaan penting mengenai bagaimana nilai-nilai sufistik dalam Simtudduror ditransmisikan melalui praktik pembacaan dan dipertahankan sebagai memori keagamaan dalam kehidupan komunitas.
Shalahudin menggunakan kerangka analisis yang menempatkan warisan sufistik dan keberlanjutan tradisi sebagai dua aspek penting. Analisis diarahkan pada nilai, narasi, orientasi spiritual, serta proses transmisi ritual yang melibatkan figur, simbol, dan referensi keagamaan.

Dalam penelitian tersebut, Shalahudin menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi dokumentasi berbasis sumber digital. Data diperoleh dari dokumentasi visual kegiatan pembacaan Simtudduror, video, publikasi digital, arsip kegiatan, serta literatur akademik yang relevan.
Data selanjutnya dianalisis secara tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian, interpretasi, dan penarikan kesimpulan untuk memahami praktik pembacaan, nilai sufistik, transmisi ritual, serta memori keagamaan di Masjid Riyadh Solo.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Simtudduror berlangsung secara kolektif. Jamaah mengikuti teks dan rangkaian bacaan, sementara pembacaan dipandu oleh pembaca tertentu. Pengulangan menjadi bagian penting dari praktik ritual tersebut.
Dari sisi nilai sufistik, penelitian mengidentifikasi mahabbah atau kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, keteladanan akhlak Nabi sebagai figur teladan, serta orientasi spiritual yang dihayati melalui pujian dan shalawat. Dengan demikian, Simtudduror tidak hanya diposisikan sebagai teks maulid, tetapi juga sebagai praktik keagamaan yang dihidupkan melalui partisipasi jamaah dalam ritual bersama.
Lebih jauh, penelitian tersebut menunjukkan bahwa transmisi nilai berlangsung melalui partisipasi dan pengulangan ritual. Melalui proses tersebut, figur Nabi, narasi, simbol, dan nilai-nilai keagamaan terus dihadirkan kembali dalam kehidupan komunitas sehingga membentuk dan mempertahankan memori keagamaan.
Pada bagian kesimpulan, Shalahudin menegaskan bahwa Simtudduror bukan hanya teks maulid, tetapi juga ruang sosial-spiritual yang memungkinkan warisan sufistik terus ditransmisikan dan memori keagamaan dipertahankan.
Nilai mahabbah, keteladanan akhlak, dan orientasi spiritual memperoleh bentuk sosial melalui pembacaan bersama. Sementara itu, ritual yang dilakukan secara berulang menghadirkan kembali figur Nabi, narasi, simbol, dan nilai sebagai referensi bersama bagi komunitas.
Keikutsertaan Shalahudin dalam ICCL 2026 menunjukkan bahwa mahasiswa PAI tidak hanya aktif dalam kajian pendidikan Islam secara konvensional, tetapi juga mampu mengembangkan penelitian yang mempertemukan studi Islam, tradisi keagamaan, sufisme, budaya lokal, dan memori kolektif masyarakat.
Partisipasi tersebut sekaligus menjadi kontribusi mahasiswa PAI Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta dalam forum akademik internasional, khususnya dalam mengangkat kekayaan praktik keagamaan lokal sebagai bagian penting dari produksi pengetahuan akademik.